BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Public Relations
Public relations dalam dunia kerja praktis dikembangkan oleh Ivy Ledbetter Lee (Jefkins, 2004: 5). Beliau merupakan jurnalis yang direkrut pengusaha minyak Amerika, John D. Rockofeller. Pada perusahaan tersebut, beliau dituntut untuk memastikan adanya peliputan pers yang adil atas sepak terjang perusahaan batu bara dan kereta api di mana dia bekerja, terutama pada saat krisis. Beliau melakukan dengan menciptakan dan memelihara hubungan yang baik antara perusahaan dengan pihak luar, terutama kalangan media massa. Jika Ivy Lee dikenal sebagai Bapak Humas dalam praktek, maka yang dipandang sebagai pendiri disiplin public relations bidang akademik adalah Edward L. Bernays. Beliau mengajarkan ilmu-ilmu public relations pada New York University pada tahun 1923 (Adnan dan Cangara, 1996:25).
Dalam dunia public relations sudah banyak menyangkut kepentingan setiap organisasi, baik komersial maupun yang non-komersial. Terlepas dari suka atau tidak, adanya PR tidak bisa dicegah dan dihindari. Seperti pemaparan sebelumnya, istilah public relations diartikan sebagai sebuah aktivitas yang dilakukan oleh Ivy L. Lee, pada tahun 1906 berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara di Amerika Serikat dengan sukes dalam (Effendy, 1986 :105). Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadaan manusia. Unsur-unsur yang berkaitan dengan aktifitas memberi informasi kepada masyarakat, membujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat sehingga informasi tersebut bisa dijadikan landasan bagi masyarakat itu sendiri.
Perlu untuk menjadi bagian dari pemahaman yakni mengenai definisi mengenai public relations. Rumusan The International Public Relations Association mengenai public relations adalah
“…Suatu fungsi manajemen dari budi yang dijalankan secara berkesinambungan dan berencana, dengan mana organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang bersifat umum dan pribadi berusaha memperoleh dan membina pengertian, simpati dan dukungan dari mereka yang ada sangkut pautnya atau yang mungkin ada sangkut pautnya-dengan menilai pendapat umum diantara mereka dengan tujuan sedapat mungkin menghubungkan kebijaksanaan dan ketatalaksanaan mereka, guna mencapai kerja sama yang lebih produktif dan untuk melaksanakan kepentingan bersama yang lebih efisien, dengan melancarkan informasi yang berencana dan tersebar luas…” (Effendy, 1999:134)
Tokoh professional dan akademik di bidang public relations mengumpulkan 500 definisi public relations yang ditulis antara tahun 1900-an dan 1976. Beliau mengidentifikasikan elemen-elemen utamanya guna menunjukkan apa itu PR, bukan sekedar apa yang dilakukan PR. Definisinya mencakup elemen konseptual dan operasional :
“Public relations adalah fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama, penerimaan bersama dan kerja sama antara organisasi dan publiknya; PR melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; PR membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik; PR mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik; PR membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan secara efektif dan PR dalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan PR menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya”. (Cutlip, Center dan Broom, 2006:5)
Sementara itu, The British Institue of Public Relations mendefinisikan fungsi public relations sebagai berikut, “Upaya yang mantap, berencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina pengertian bersama antara organisasi dengan khalayaknya”
Dalam penjabaran dua definisi sebelumnya secara implisit terdapat tiga fungsi pemraktek public relations, yakni antara lain dapat mengetahui secara pasti dan mengevaluasi pendapat umum yang berkaitan dengan organisasinya. Kedua, peran penasehat bagi eksekutif mengenai cara-cara menangani pendapat umum yang timbul, terakhir adalah menggunakan komunikasi untuk mempengaruhi pendapat umum (Effendy, 1999:134)
Perkembangan modern selanjutnya public relations banyak diaplikasikan di berbagai negara, sehingga penggunaan kata public relations juga disesuaikan dengan bahasa yang diapakai. Misal, bahasa Spanyol memakai kata Relaciones Publicas, bahasa Prancis memakai kata Relations Publiques, bahasa Malaysia menggunakan kata Perhubungan Raya sementara di Indonesia memilih kata Hubungan Masyarakat. Jika memang hubungan masyarakat memang terjemahan dari public relations, maka ciri-ciri hakiki public relations harus ada pada hubungan masyarakat dan dilaksanakan oleh kepala humas beserta stafnya. Adapun ciri-cirinya antara lain :
a. Komunikasi yang dilancarkan berlangsung dua arah secara timbak balik.
b. Kegiatan yang dilakukan terdiri atas penyebaran informasi, penggiatan persuasi dan pengkajian pendapat umum.
c. Tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan organisasi tempat humas menginduk
d. Sasaran yang dituju adalah khalayak di dalam organisasi dan khalayak di luar organisasi
e. Efek yang diharapkan adalah terbinanya hubungan yang harmonis antara organisasi dan khalayak
Dari ciri-ciri di atas itu jelas bahwa tugas kegiatan humas adalah mendukung tercapainya tujuan organisasi yang dikejar dan dilaksanakan oleh seluruh insan dalam organisasi yang bersangkutan, mulai pimpinan tertinggi samapai bawahan terendah (Effendy,1999:132).
Setiap tugas, selalu berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai. Tujuan merupakan sesuatu yang mengarahkan kegiatan public relations, sehingga tidak melenceng atau salah sasaran. Terlebih, karena public relations adalah fungsi manajemen dalam melaksanakan kegiatan komunikasi, maka pada dasarnya tujuan public relations adalah tujuan-tujuan komunikasi. Dalam realitas praktik public relations di organisasi, tujuan public relations antara lain (Kriyantono, 2008:5)
a. Menciptakan pemahaman antara organisasi dan publik
Kecukupan informasi merupakan dasar untuk mencegah kesalahan persepsi. Kesalahpahaman akibat salah persepsi merupakan kesalahan mendasar dalam kegiatan komunikasi (primery-breakdown of communication). Kecukupan informasi akan terwujud bila public relations menyediakan saluran komunikasi yang terbuka (open communications) dan memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah yang timbal balik (two way reciprocal).

b. Membangun citra organisasi
Citra merupakan gambaran yang ada dalam benak publik tentang organisasi. Citra adalah perspesi publik tentang organisasi menyangkut pelayanan, kualitas produk, budaya organisasi, perilaku organisasi, atau perilaku individu dalam organisasi dan lainnya. Citra positif mengandung arti kredibilitas organisasi di mata publik adalah baik (credible). Kredibilitas mencakup dua hal yakni kemampuan dan kepercayaan.
c. Citra organisasi melalui CSR
Coorporate Social Responsibility (CSR) adalah program public relations untuk melibatkan diri mengatasi persoalan-persoalan sosial di lingkungan. CSR juga disebut sebagai kegiatan pengintegrasian kepedualian terhadap masalah sosial dan lingkungan hidup ke dalam operasi bisnis organisasi dan interaksi sukarela antara organisasi dan para stakeholder (Yosal, 2004:49)
d. Membentuk opini publik yang Favourable
Opini pubik merupakan ekspersi publik mengenai persepsi dan sikapnya terhadap organisasi. Terdapat tiga jenis opini, yakni opini positif (mendukung atau favourable), opini negatif dan opini netral. Dalam kaitan ini, public relations dituntut memlihara komunikasi persuasif yang ditujukan untuk menjaga opini yang mendukung, menciptakan opini yang masih tersembunyi dan menetralkan opini yang negatif.
e. Membentuk Good Will dan kerja sama
Tahap ini, tujuan public relations sudah pada tahap tindakan nyata. Sudah terjalin kerja sama dalam bentuk perilaku tertentu yang mendukung keberhasilan organisasi. Dalam tahap ini diharapkan publik secara nyata mendukung program-program organisasi. Misal, publik turut serta menyukseskan kampanye public relations dan loyal dengan program-program lainnya.
2.2. Peranan Hubungan Masyarakat Bagi Organisasi
Sebagai bidang kerja profesional, humas juga memiliki peranan bagi organisasi, Harun (2008:124) menjelaskan mengenai peranan humas, antara lain :
a. Humas merupakan sebuah fungsi manajemen yang membantu menciptakan dan mempertahankan garis komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama timbal balik antara sebuah organisasi dan masyarakatnya
b. Melibatkan manajemen ke dalam sebuah isu
c. Membantu manajemen untuk selalu mendapatkan informasi mengenai pendapat masyarakatnya dan menanggapinya.
d. Membantu manajemen untuk senantiasa mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan itu secara aktif
e. Humas juga berperan sebagai suatu sistem peringatan dini untuk membantu mengantisipasi tren dan menggunakan riset serta tekhnik komunikasi etis sebagai piranti utamanya.
Dengan demikian maka humas memainkan peran ganda, pada satu level berperan sebagai penasehat dan konsultan bagi manajemen. Pada level lain, humas juga berperan sebagai perangkat tekhnis yang mengolah tekhnik komunikasi dalam beberapa agenda, antara lain : konfrensi pers, presentase slide, gathering, promo launching dan acara-acara khusus lainnya. Hal ini dilakukan bertujuan unutk memberi tahu masyarakat mengenai tindakan dan keputusan manajemen.
Sedangkan Morrisan (2008:85) menjelaskan peranan humas dalam dua spesifikasi jenis organisasi, yakni organisasi profit dan organisasi non-profit. Bentuk dari organisasi profit antara lain, perusahaan perseorangan, perusahaan firma, perseroan terbatas (PT) dan perusahaan publik (Tbk). Peran spesifik humas dalam organsasi profit adalah mendukung upaya-upaya peningkatan laba perusahaan. Misalnya dengan publik internal, humas mengupayakan program komunikasi yang mampu meningkatkan motivasi kerja karyawan untuk bekerja sesuai standar yang diharapkan manajemen, meningkatkan komitmen manajemen pada tanggung jawab organisasi baik pada publik internal maupun eksternal sehingga organisasi selalu mengeluarkan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara pada publik eksternal, peran humas yakni menyampaikan tanggung jawab organisasi kepada masyarakat luas sehingga citra dan reputasi produk, jasa dan perusahaan semakin positif di masyarakat.
Organisasi non profit didirikan untuk mencapai tujuan yang bersifat non bisnis atau tidak mencari keuntungan. Organisasi non profit dapat dibagi menjadi dua macam, yakni organisasi nonprofit pemerintah dan organisasi nonprofit bukan pemerintah. Humas pada organsisai nonprofit pemerintah menurut Harun (2008:90) berperan untuk menjelaskan kegiatan yang dilakukan organisasi bersangkutan kepada masyarakat dan sebaliknya menerima umpan balik yang diberikan masyarakat dan menyampaikannya kepada pimpinan organisasi. Sedangkan organisasi nonprofit bukan pemerintah merupakan organisasi yang bergantung pada kegiatan pengumpulan dana (fund raising) yang kerap diadakan untuk menunjang operasionalnya. Sehingga peran humas yakni mampu menarik khalayak untuk kegiatan pengumpulan dana dan memberikan informasi kepada donatur mengenai sejauh mana penggunaan dana yang sudah terkumpul. Peran lainnya adalah menarik minat orang yang menjadi sukarelawan (misal pada organisasi Palang Merah, humas berperan untuk menarik minat publik untuk donor darah dan lain-lain).
Berbicara mengenai peran humas pada organisasi, maka juga tidak salah kiranya membicarakan posisi humas pada struktur organisasi. Nasution (2006:93) memaparkan mengenai asumsi posisi humas dalam sebuah struktur organisasi, yakni (1) ditentukan berdasarkan ukuran organisasinya, (2) ditentukan berdasarkan nilai humas bagi pimpinan, (3) ditentukan karakteristik khas humas masing-masing lembaga, (4) posisi humas ditentukan melalui aturan yang dibuat oleh suatu lembaga. Lebih lanjut, Nasution (2006:96) menggambarkan posisi humas pada lingkup lembaga pendidikan tinggi. Pada prinsipnya peran humas secara struktural dalam organisasi merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari suatu kelembagaan atau organisasi. Humas adalah pihak yang menjadi “saluran penghubung” semua kepentingan yang ada di lembaga. Pada organisasi perguruan tinggi, bidang humas berada tepat di bawah pimpinan dengan hubungan instruktif, sedangkan dengan bidang yang lain, yang notabenenya di bawah pimpinan, humas terhubung secara koordinatif. Artinya, segala kegiatan yang humas lakukan harus dipertanggung jawabkan pada pimpinan, sedangkan perannya dalam komunikasi internal organisasi, humas memiliki jalur akses koodinatif dengan bidang kerja lainnya. Singkatnya adalah seperti skema di bawah ini :

Instruktif =
Koordinatif =

Gambar : Struktur sederhana posisi humas pada organisasi berdasarkan pemaparan dari Zulkarnaen Nasution (2006:96)

2.3 Fungsi Hubungan Masyarakat Bagi Organisasi
Organisasi berasal dari bahasa latin yakni organizare yang artinya membentuk sebagai atau menjadi keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bergantung atau terkoordinasi. Secara harfiah, organisasi sendiri bermakna paduan dari bagian-bagian yang satu sama lainnya saling bergantung. Dalam Onong Uchjana Effendy (1999:114), Everet M. Rogers dan Rekha Agarawala Rogers mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui suatu jenjang kepangkatan dan pembagian tugas. Dalam pemaparannya, Rogers dan Rogers memandang organisasi sebagai suatu struktur yang melangsungkan proses pencapaian tujuan yang telah di tetapkan yang operasi dan interaksi diantara bagian yang satu dengan yang lainnya dan manusia yang satu dengan yang lainnya berjalan secara harmonis, dinamis dan pasti.
Sementara S. Bernatt Rosenblatt, Robert Bonnington dan Berverd.E Neddles, Jr mendefinisikan organisasi sebagai sarana manajemen dalam mengkoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang. Esensinya adalah penciptaan kerangka bagi penampilan segala aktifitas untuk mencapai tujuan seefisien mungkin. Organisasi memadukan hubungan bagian-bagian dan garis-garis wewenang dan tanggung jawab, memberikan pengarahan dan melakukan koordinasi (Effendy, 1999:115). Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjaunnya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode, tekhnik, efektifitas, media, proses, faktor dan sebagianya.
Humas sebagai bentuk khusus praktek ikmu komunikasi memilik tendensi yang kuat dalam jalannya sebuah strategi di organisasi. Muhammad dalam Christine (2010:45) memaparkan pandangan mengenai komunikasi organisasi, paparan beliau yakni :
a. Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem terbuka yang kompleks dan dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal
b. Komunikasi organsisai meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media
c. Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan ketrampilan.
Supaya suasana komunikasi yang efektif dapat tercipta di dalam suatu organisasi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang public relations. Syarat-syarat tersebut adalah pertama, komunikasi dan relasi. Seorang PR harus mampu berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain karena komunikasi dan relasi merupakan landasan dari pekerjaan PR. Kedua, sifat yang rendah hati, sifat yang rendah hati menjadi satu syarat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh seorang PR supaya komunikasi dapat dilakukan terhadap semua lapisan masyarakat tanpa membedakan pangkat dan derajat. Ketiga, cepat menyesuaikan diri, Seorang PR diharapkan dapat cepat menyesuaikan diri, karena pekerjaan seorang PR selalu berhubungan dengan hal-hal baru dan seringkali cepat berubah.
Keempat, mampu menghadapi semua orang yang memiliki aneka ragam karakter dan latar belakang budaya dengan baik. Kelima, mampu berkomunikasi dengan baik, yaitu mampu menjelaskan segala sesuatu dengan jernih, jelas dan lugas baik lisan maupun tulisan. Keenam, pandai mengorganisir segala sesuatu. Ketujuh, memiliki integritas personal baik dalam profesi maupun kehidupan pribadi. Selanjutnya, punya imajinasi yang kuat dan yang terakhir adalah memiliki akses yang tinggi terhadap informasi (Darmastuti, 2007:8).
Fungsi atau peranan adalah harapan publik terhadap apa yang seharusnya dilakukan oleh PR sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang humas. Jadi humas dikatakan berfungsi apabila dia mampu melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik, menunjang tujuan organisasi dan menjamin kepentingan publik. Menurut Rachmat Kriyantono (2008:18), secara garis besar fungsi public relations adalah memelihara komunikasi yang harmonis antara organisasi dengan publik, melayani kepentingan publik dengan baik dan memelihara perilaku dan moralitas organisasi dengan baik.
Sedangkan Cutlip dan Center (Kriyantono, 2008:19) menyebut fungsi humas sebagai berikut :
a. Menunjang kegiatan manajemen dan mencapai tujuan organsasi
b. Menciptakan komunikasi dua arah secara timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi
c. Melayani publik dan memberikan nasehat kepada pimpinan organisasi untuk kepentingan umum
d. Membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan publik, baik internal maupun eksternal.
2.4. Publik dalam Public Relations
Istilah publik dalam public relations merupakan khalayak sasaran dari kegiatan public relations. Publik itu disebut juga stakeholders, yakni kumpulan dari orang-orang atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap organisasi. Dalam organisasi, unsur-unsur stakeholders antara lain : penyandang dana, anggota, keluarga anggota, konsumen dari event organisasi, komunitas dan pemerintah. Rhenald Kasali (1994:11) menjelaskan beberapa pembagian mengenai publik.
a. Publik internal dan publik eksternal
Publik internal adalah publik yang berada di dalam organisasi. Misalnya para anggota, mulai dari ketua, koordinator divisi dan anggota divisi. Sedangkan publik eksternal adalah mereka yang berkepentingan terhadap organisasi dan berada di luar organisasi. Misalnya, pemerintah, komunitas dan media.
b. Publik primer, sekunder dan marjinal
Tidak semua elemen dalam stakeholders perlu diperhatikan oleh organisasi. Organisasi perlu menyusun suatu kerangka prioritas, yang paling penting disebut publik primer, yang kurang penting disebut publik sekunder dan yang dapat diabaikan adalah publik marjinal. Urut-urutan tersebut juga memungkinkan unutk berubah dari tahun ke tahun.
c. Publik tradsional dan publik masa depan
Anggota dan masyarakat yang mengikuti event organisasi adalah publik tradisional, sedangkan mahasiswa luas, peneliti, pejabat pemerintahan adalah publik masa depan.
d. Proponents, opponents dan uncommitted
Dianatara publik terdapat kelompok yang menentang organisasi (opponents), yang memihak (proponents) dan ada yang tidak peduli (uncomitteed). Organisasi perlu mengenal publik yang berbeda-beda ini agar dapat dengan jernih melihat permaslahan.
e. Silent majority dan Vocal minority
Dilihat dari aktivitas publik dalam mengajukan komplain atau mendukung organisasi, dapat dibedakan anatara yang vocal (aktif) dan yang silent (pasif). Misal, organisasi surat kabar, penulis kritikan (surat pembaca) di surat kabar adalah vocal minority sedangkan pembaca artikel koran pada umumnya silent minority.
Setiap identifikasi publik memiliki karakteristik yang berbeda pula. Berikut ini adalah penjelasan Suryadi dalan hal karakteristik publik (2007:6)
a. Publik yang dapat dibedakan. Publik merupakan kelompok orang yang dapat dikenal, meskipun tidak penting untuk mengenal kelompok formal.
b. Publik bersifat heterogen. Publik memiliki perlakuan dan simbol yang sama. Publik bisa saja tidak mengenal satu sama lain, namun seorang PR memiliki alasan yang kuat untuk memperlakukan publik sebagai sebuah kelompok.
c. Publik merupakan bagian yang penting bagi organisasi. Tidak seluruh kelompok diidentifikasi dan tentu saja tidak seluruh individu yang terisolasi penting bagi kesuksesan organisasi. Sebagian dari publik bisa saja menempati peringkat terpenting dan sebagian lain sama sekali tidak penting. Komunikator strategis dalam PR dan komunikasi marketing tidak akan tertarik dengan orang-orang yang tidak akan memberikan manfaat dalam pencapaian tujuan utama atau misi organisasi.
d. Publik bersifat luas. Memastikan cakupan publik yang diklasifikasikan cukup luas dalam menarik perhatian publik dan pemakaian media yang tersedia.
e. Publik yang dapat diraih. Publik merupakan kelompok orang yang dapat diajak berinteraksi dan berkomunikasi.
Identifikasi publik merupakan kegiatan yang cukup menyita waktu, klasifikasi dalam heterogenitas masyarakat memerlukan perhatian serius. Hafied Cangara memberikan batasan-batasan khusus (1998:151), batasan tersebut antara lain : jenis kelamin, usia, jumlah khalayak, tempat di mana khalayak berada, tingkat pendidikan, bahasa, agama, pekerjaan, pemilikan media, sikap dan temperamen, hobi, ideologi politik, nilai dan norma, mobilitas sosial dan lainnya.
Publik sebagai penerima pesan, juga perlu strategi khusus bagaiman cara menyampaikan pesan sesegera mungkin dipahami optimal. Bukan hanya ketrampilan berkomunikasi tetapi juga cukup banyak dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan serta kondisi sosial budaya yang ada di sekitar penerima. Perbedaan seperti ini menyebabakan terjadinya pelapisan penerima terhadap suatu informasi. Rogers (dalam Cangara 1998:158) mendeskripsikan penerima pesan dalam lima tipe, yakni
a. Innovator adalah publik yang gandrung pada perubahan dengan berani melakukan uji coba dengan penuh resiko.
b. Early adopter adalah publik yang pertama kali menerima ide-ide baru dari pembaharu (innovator). Publik ini adalah golongan yang berintegrasi dengan sistem sosial yang ada.
c. Early majority adalah piblik yang tergolong sebagai penerima pesan dan ide-ide baru sebelum rata-rata anggota lainnya menerima ide tersebut.
d. Late majority adalah publik yang menerima ide-ide setelah rata-rata anggota lainnya menerimanya lebih awal.
e. Pengikut adalah publik yang tergolong penerima terakhir dari sistem sosial yang ada. Mereka tidak punya pendapat dan berada di luar jaringan sosial namun masih dekat. Cenderung konservatif, lambat dan tradisional.
2.5. Perumusan Strategi Public Relations
Kesuksesan sebuah strategi public relations selalu dimulai dan diakhiri dengan penelitian. Berikut ini adalah langkah yang biasa dilakukan dalam proses PR sebagaimana yang diapaparkan oleh Cutlip dan Center (dalam Khasali 1994:82)
a. Definisi permasalahan. Mengenal simtom dan penyebabnya. Praktisi PR melibatkan dalam penelitian dan pengumpulan fakta serta juga terus melakukan pemantauan terhadapa sikap dan opini publik. Tahapan ini akan menjawab pertanyaan, “Whats happening now?
b. Perencanaan dan Program. Praktisi PR menemukan penyebab timbulnya permasalahan dan sudah siap dengan langkah-langkah pemecahan dan pencegahan. Langkah-langkah ini disusun dalam bentuk rencana dan program/ Tahap kedua akan menemukan jawaban dari pertanyaan, “What should we do and why”
c. Aksi dan komunikasi. Aksi dan komunikasi harus dikaitkan dengan objective dan goals yang spesifik yang sekaligus menjawab pertanyaan tentang “How do we do and say it?”
d. Evaluasi Program. Praktisi PR perlu melakukan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil. Tahapan ini akan melibatkan pengukuran atas hasil tindakan di masa lalu serta menjawab pertanyaan “How did we do?”.
Tambahan dari Hamdan Adnan dan Hafied Cangara (1996:138) yakni penjelasan mengenai poin-poin evaluasi dari implementasi strategi public relations pada organisasi sosial kemasyarakatan. Poin tersebut antara lain banyaknya pertanyaan yang masuk dari publik tentang organisasi, meningkatnya jumlah permintaan anggota, banyaknya tawaran yang diterima untuk member tawaran, banyaknya permintaan media kepada pimpinan organisasi serta banyaknya liputan media terhadap kegiatan organisasi.

2.6. Manajemen Public Relations
Setiap kegiatan dalam organisasi membutuhkan manajemen, menurut Sagian, manajemen dimaknai sebagai proses menggerakkan orang lain untuk memperoleh hasil tertentu dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetntuka sebelumnya. “Proses” dalam manajemen merupakan bentuk kemampuan atau ketrampilan memperoleh hasil dalam rangka pancapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan organisasi tersebut. Karena itu, dalam manajemen sudah mencakup beberapa bidang, yakni bidang kepemimpinan, human relations, pengambilan keputusan, manusia, sarana dan kerjasama (Nasution 2006:11).
Manajemen dan public relations adalah dua bidang ilmu yang berkembang secara terpisah. Namun, dalam perkembangannya, manajemen akhirnya berhasil meningkatkan peranannya pada hampir setiap bidang kehidupan. Seperti pada hubungan antara manajemen dan bidang-bidang lainnya, manajemen juga telah menyatu dengan public relations. Artinya, manajemen telah member kontribusi yang sangat besar bagi penerapan konsepsi public relations dalam kehidupan manusia. Manajemen, dalam konteks strategi, mempunyai peran untuk membantu organisasi menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dalam lingkungan usaha.
Mewujudkan tujuan yang telah menjadi landasan, seorang public relations perlu unutk menerapakan konsep strategic manajemen atau rencana strategis. Dalam suatu strategic manajemen organisasi menerapkan garis-garis besar tindakan strategis yang akan diambil dalam kurun waktu tertentu ke depan. Untuk melihat ke depan, organisasi pelru untuk melihat kebelakang, yakni hal-hal yang telah dicapai di masa lalu, harapan yang dijanjikan oleh prestasi dan persepsi yang muncul dari lingkungannya. Praktisi public relations harus turut bagian dalam observasi pendapat dan harapan-harapan yang muncul. Rhenald Kasali (1994:34) memberi bantuan bagi praktisi public relations untuk melakukan langkah-langkah dalam fungsi kontribusi kepada rencana strategis, langkah tersebut antara lain
a. Menyampaikan fakta dan opini baik yang beredar di dalam maupun di luar organisasi
b. Menelusuri dokumen resmi organisasi dan mempejari perubahan yang terjadi secara historis. Perubahan ini umumnya disertai dengan perubahan sikap organisasi terhadap publiknya atau sebaliknya.
c. Melakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Oppurtunities dan Threats)
Bahan-bahan yang diperoleh akan sangat berguna dan bermanfaat untuk disampaikan dalam proses perumusan rencana manajemen strategis public relations jangka panjang. Berdasarkan rumusan itulah seorang praktisi PR dapat menentukan langkah yang dapat diambil serta program kerja yang akan disusun. Selain itu, pakar manajemen Pearce dan Robinson (Kasali, 1994:43) juga memberikan masukannya mengenai langkah-langkah menyusun strategic manajemen public relations, yakni menentukan misi organisasi, mengembangkan company profile, penilaian terhadap lingkungan ekstern organisasi, analisis terhadap peluang yang tersedia, identifikasi atas pilihan yang dikehendaki. Keenam, pemilihan strategi atas objective jangka panjang, mengembangkan objective tahunan dan rencana jangka pendek, mengsinergikan rencana dengan sumber daya yang dimiliki serta yang terakhir adalah evaluasi atas hal-hal yang telah dicapai.
Dalam bukunya ”Dasar-Dasar Public Relations, Teori dan praktik”, Sr. Maria Assumpta (2005:32) memberikan sedikit mengenai gambaran fungsi pokok manajemen public relations dalam organsasi, yang antara lain
a. Berupaya untuk merencanakan dan mengorganisir organisasi serta mampu menciptakan hubungan yang bermanfaat dengan publiknya.
b. Memperoleh goodwill, kepercayaan dan citra positif dari masyarakat.
c. Memiliki sarana opini publik yang menguntungkan semua.
d. Memberi identitas bagi organisasi, meliputi warna, budaya, citra dan suasana kondusif serta menyenangkan.
e. Menciptakan kegiatan yang menyeluruh dan berkesinambungan.
f. Berusaha melibatkan seluruh individu dalam organisasi, masing-masing dalam tugasnya. Optimalisasi komunikasi dan kerja sama antara top management dengan staff management untuk pencapaian tujuan PR.
g. Fungsi PR harus di mulai dari masing-masing lini di semua organisasi.
2.7. Harapan dan Motivasi
Target publik dan pelaksanaan strategi harus mampu memenuhi harapan, baik dari publik internal maupun eksternal. Vroom (dalam Pace dan Faules, 2006:124) mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan jenis-jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan. Teori harapan Vroom atau expentancy theory ini memiliki tiga asumsi, antara lain :
a. Setiap individu percaya bahwa bila ia berperilku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hal tertentu. Hal ini disebut harapan hasil (outcome expentancy), yakni penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa suatu hasil tertentu akan muncul daru tindakan orang tersebut
b. Setiap hasil mempunyai nilai atau daya tarik bagi orang tertentu, hal ini disebut valensi. Dalam kata lain, valensi sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu hasil yang diharapkan.
c. Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit mencapai hasil tersebut, hal ini disebut harapan usaha. Dalam kata lain harapan usaha adalah sebuah kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menghasilkan pencapaian suatu tujuan tertentu.
Motivasi, dalam teori harapan adalah keputusan untuk mencurahkan usaha. Analisis Nadler dan Lawler (Pace dan Faules, 2006:125) menyarankan beberapa cara tertentu yang memungkinkan manajer dan organisasi menanganai urusan mereka untuk memperoleh motivasi maksimal, yakni memastikan jenis hasil atau ganjaran yang mempunyai nilai bagi orang lain, mendefiniskan secara cermat, dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dan diukur, apa yang diinginkan oleh orang lain. Ketiga, memastikan bahwa hasil tersebut dapat dicapai oleh orang tersebut. Mengaitkan hasil yang diinginkan dengan tingkat kinerja yang diinginkan. Kelima, memastikan bahwa ganjaran cukup besar untuk memotivasi perilaku yang penting. Terakhir adalah, orang yang memiliki kinerja tinggi harus menerima lebih banyak ganjaran yang diinginkan daripada orang berkinerja rendah.
Harapan yang menjadi dasar bergeraknya sebuah individu juga akan membangkitkan motivasi yang besar. Winardi dalam Sherly (2010:46) mengartikan motivasi sebagai suatu kekuatan potensial yang ada didalam diri manusia, yang dapat dikembangkannya sendiri atau dikembangkan dengan sejumlah kekuatan luar yang pada intinya berkisar pada imbalan moneter dan imbalan non-moneter, yang dapan mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif maupun negatif, hal mana tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang yang bersangkutan.
2.8. Community Relations
Komunitas merupakan istilah yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari pada berbagai kalangan. Komunitas dipandang hanya salah satu bagian dari publik yang dilayani dalam kegiatan PR yang dikatagorikan sebagai publik eksternal (Hallahan dalam Yosal, 2004:22). Sedangkan Stewart E. Perry dalam Yosal (2004:24) memaknai komunitas dengan dua sudut pandang yakni komunitas sebagai katagori yang mengacu pada orang yang saling berhubungan berdasarkan nilai-nilai dan kepentingan bersama yang khusus. Kedua, yang secara khusus menunjuk pada satu katagori manusia yang berhubungan satu sama lain karena didasarkan pada kesaamaan lokalitas.
Hubungan antara komunitas dan organisasi lebih tepat dipandang sebagai wujud tanggung jawab sosial organisasi. Menurut Dougherty (dalam Yosal 2004:26) memaparkan konsep tanggung jawab sosial organisasi baru muncul tahun 1960-an sebagai respon terhadap nilai-nolai sosial yang berubah. Nilai-nilai tersebut muncul dalam bentuk mulai meningkatnya perdebatan-perdebatan tentang isu-isu sosial. Sehingga, organisasi dituntut untuk memenuhi tanggung jawab dan memenuhi tanggung jawab hukum yang baru.
Godeke (dalam Yosal 2004:28) menyebutkan ada bebrapa faktor yang mempengaruhi perubahan hubungan antara organisasi dan komunitas. Faktor-faktor tersebut antara lain, globalisasi, peningkatan harapan, menguatnya masyarakat madani dan sektor LSM yang makin berdaya. Keempat, pengaruh meningkatnya gerakan lingkungan serta pasar untuk tenaga kerja berbakat.
2.9. Organisasi Profesi
Profesi diartikan macam-macam, namun secara substansinya tidak begitu banyak berbeda. Menurut Piet, 1994: 26). Profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka (to profess artinya menyatakan) yang menyatakan bahwa seseorang itu mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan kerena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu. Sementara Everet Hugher (dalam Piet, 1994: 26) mengatakan bahwa profesi merupakan simbol dari suatu pekerjaan dan selanjutnya menjadi pekerjaaan itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1996: 789) bahwa profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi oleh pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Sedangkan Webster`s New Wold Dictionery (dalam Oteng: 1983) menyebutkan bahwa profesi sebagai suatu pekerjaan yang meminta pendidikan tingggi dalam liberal arts atau sains, dan biasanya meliputi pekerjaan mental, bukan pekerjaan manual atau pekerjaan kasar, seperti mengajar, keinsinyuran, mengarang dan seterusnya. (paper saidsuhilachmad.yolasite.com dalam http://www.2dix.com diakses penulis tanggal 27 januari 2011).
Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka seagai individu. Adapun ciri-ciri organisasi profesi menurut Prof. DR. Azrul Azwar MPH (1998) yakni :
a. Umumnya untuk satu profesi hanya ada satu organisasi profesi yang para anggotanya berasal dari satu profesi saja dalam arti telah menyelesaikan pendidikan profesi dengan dasar-dasar keilmuan yang sama.
b. Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik (Code of professional ethnic) merumuskan kompetensi profesi (professional competency) serta memperjuangkan tegaknya kebebasan profesi (professional autonomous).
c. Kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta merumuskan standar pelayanan profesi (standar of professional services) yang mana kode etik termasuk kedalamnya, merumuskan dan menetapkan standar pendidikan dan pelatihan profesi (standar of professional education and training ) serta menetapkan dan memperjuangkan kebijakan dan politik profesi (professional policy).
Sementara apabila organisasi profesi bekerja dengan baik dan lancar banyak manfaat yang akan diperoleh, minimal ada 4 manfaat (Brecko:1989) yakni : dapat lebih mengembangkan dan memajukan profesi, kedua, dapat menertibkan dan memperluas bidang gerak profesi. Ketiga, dapat menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi. Terakhir, dapat memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi (sumber http://www.stikeskabmalang.files.wordpress.com diakses penullis pada tanggal 27 Januari 2011)
2.10. Strategi melalui Media Massa
Strategi hubungan masyarakat selalu dirancang untuk mencapai tujuan publiknya. Terkadang tujuan tersebut diarahkan kepada pihak eksternal, memberikan informasi kepada pelanggan, mitra kerja ataupun khalayak lainnya. Dalam pemaparannya, Lwin dan Aitchison (2005:19) menerangkan bahwa hubungan dengan media adalah salah satu dari strategi yang bisa digunakan oleh para praktisi humas.
Menurut Jefkins (dalam Nurudin dalam Christine, 2010:28) definisi dari media relations adalah usaha untuk mencari publikasi atau penyiaran yang maksimum dalam rangka menciptakan pengetahuan bagi khlayak dari organisasi organisasi yang bersangkutan. Dengan kata lain, humas menggunakan media massa sebagai alat untuk mendistribusikan pencitraan positif sebuah institusi atau organisasi kepada masyarakat.
Hubungan media memamainkan peran yang besar dalam banyak program PR eksternal, meningkatkan jarak pandang dan kredibilitas organsasi. Banyak program hubungan media harus mampu “menjual” nilai informasi organisasi, orang-orangnya dan produk-produknya pada komunitas editorial. Hubungan baik, antara personal public relations dengan media harus terbina baik. Hubungan ini diperlukan untuk meyakinkan para editor dan wartawan bahwa nilai-nilai informasi yang dimiliki adalah hal yang perlu diangkat oleh media.
Salah satu strategi media yang cukup ampuh diguanakan oleh humas untuk menyebarluaskan nilai informasi tersebut yakni press release. Press release adalah pengumuman tentang apa yang organisasi lakukan dan apa yang organisasi tawarkan (Suryadi,100:2007). Sebuah prees release yeng efektif menyediakan keterangan tentang siapa, apa, di mana, mengapa dan kapan dari cerita dengan cara yang ringkas. Artikel ringkas tersebut bisa disebarluaskan melalui email, website, media cetak maupun elektronik.
Beberapa hal-hal pokok yang perlu untuk dijadikan pertimbangan ketika humas memilih media (Jefkins, 2003:115)
a. Kebijakan editorial. Pemilihan media dengan pertimbangan pada subjek-subjek yang akan dicetak atau yang akan diterbitkan.
b. Frekuensi penerbitan. Setiap media memiliki edisi terbit yang berbeda-beda, misal koran harian, tabloid mingguan, majala dua mingguan, buletin bulanan dan lainya. Oplah tiap kali terbit juga perlu menjadi pertimbangan bagi praktis PR guna mengetahu kekuatan media di masyarakat,
c. Tanggal terbit. Hal ini menjadi penting untuk mendapatkan momentum pada pemberitaannya. Informasi yang besifat urgent dan cepat perlu diangkat pada media yang tanggal terbitnya segera.
d. Proses percetakan. Berkaitan mengenai bagaimana tekhnik percetakannya, missal offset-litho, letterpress, fotogravur, litografi, fleksografi.
e. Daerah sirkulasi. Jangkauan sirkulasi berimplikasi pada tarjet komunikan dari organisasi yang memberitakan informasi.
f. Jangkauan pembaca. Pertimbangan pada kemampuan tarjet audien dengan muatan berita yang ditampilkan di media. Sehingga, humas wajib mengetahui karakteristiknya baik melalui jenis kelamin, usia, pekerjaan, status sosial, minat, kebangasaan, agama dan lainnya.
g. Metode distribusi. Mekanisme penyebarluasan informasi di masyarakat, apakah melalui toko buku, pemberian langsung dari pintu ke pintu, lewat pos, melalui langganan maupun secara elektronik.
Agenda-agenda media massa yang banyak dioptimalkan dalam operasionalisasi tugas humas antara lain (Emeraldy dan Rulli, 2008:163)
a. Konfrensi pers. Event yang memungkinkan wartawan secara bersama-sama menerima informasi dari sebuah organisasi. Beberapa keunggulan menyelenggarakan konfrensi pers antara lain, mendekatkan hibungan personal wartawan dan praktisi humas, lebih mengutamakan komunikasi lisan serta merupakan kombinasi komunikasi satu arah dan dua arah (feedback).
b. Siaran pers. Merupakan instrumen kehumasan yang tidak kalah populer dibandingankan konfrensi pers, alasannya adalah cara ini memiliki kelebihan-kelebihann. Kelebihan tersebut adalah lebih sederhana maksudnya tidak perlu menyiapkan acara serta hemat biaya. Kedua yakni informasi terfokus dandan selektif dan penyebaran luas. Terakhir adalah lebih efektif dalam penggunaan waktu.
c. Publisitas, yakni penyebarluasan informasi berbasis aksi.
d. Iklan. Media saluran iklan dimanfaatkan oleh praktisi public relations guna mengharapkan pemberitaan yang positif dari publik
e. Saluran benalu (grapevine). Menurut Davis (dalam Emeraldy dan Rulli, 2008:171), saluran benalu (saluran informal) sangat banyak berperan, baik dalam memperparah krisis maupun menyelesaikan krisis, sebab saluran ini dapat dilewati oleh berbagai gosip dan rumor baik positif maupun negatif. Saluran benalu muncul sebagai respon dari tidak bekerjanya saluran komunikasi formal dalam menjawab kebutuhan orang (Sigmund dan Bell dalam Emeraldy dan Rulli, 2008:172).
Manfaat yang dapat diambil oleh praktisi PR dan organisasinya dalam hubungannya dengan media massa adalah mampu membangun pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab organisasi dan media massa. Selain itu juga dapat membangun kepercayaan timbal balik dengan prinsip saling menghormati dan menghargai kejujuran serta kepercayaan. Relasi yang telah terjalin baik dengan pelaku media sangat membantu praktisi PR dalam tugasnya menyampaikan informasi yang akurat, jujur dan memberikan pencerahan bagi publik.

2.11. Reposisi Peran dan Fungsi Hubungan Masyarakat
Humas sebagai sebuah disiplin ilmu akademis dan terapan memiliki tata aturan baku mengenai standar operasionalisasi kerja termasuk juga memiliki etika profesi. Semua pihak memang memiliki tanggung jawab sebagai pelaksana humas namun juga tidak semua pihak mampu untuk melaksanakannya. Pendapat Nasution (2006:93) menyatakan bahwa posisi divisi humas dalam sebuah organisasi masih menjadi permasalahan bagi organisasi yang bersangkutan. Karena masing-masing organisasi meletakkan posisi humas pada tingkatan yang berbeda, tergantung pada perhatian dan keinginan pimpinan memandang apakah peran humas itu perlau atau tidak. Sebagai wacana, asumsi dari realitas yang terwujud di masyarakat adalah minimnya pemahaman sumber daya manusia yang mampu menggerakkan motor peran dan fungsi humas bagi organisasi. Dengan rasionalisasi diatas perlu kiranya upaya reposisi peran dan fungsi humas pada struktur organisasi.
Menurut pengertian yang ada pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna reposisi diartikan sebagai “penempatan kembali ke posisi semula; penataan kembali posisi yg ada; penempatan ke posisi yg berbeda atau baru” (www.kamusbahasindonesia.org di akses penulis tanggl 15 Februari 2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perbedaan penerapan peran dan fungsi humas pada instititusi profesional antara konsep dan realitas. Sehingga pemaknaan reposisi pada fenomena ini adalah pada tataran mengembalikan jati diri fungsi dan peran humas seperti yang tertulis pada kesepakatan para ahli humas dunia, dalam rangka penyelenggaraan kerja humas yang profesional dan berkualitas.
2.12. Opini Publik
Menurut pendapat ahli, yakni Leonard W Doob, opini publik diartikan sebagai sikap orang-orang mengenai sesuatu soal yang mereka merupakan anggota dari sebuah masyarakat yang sama. Sedangkan Kruger Reckles, seorang psikologi sosial, memaknai opini publik sebagai penjelmaan dari pertimbangan seseorang tentang sesuatu hal, kejadian atau pikiran yang telah diterima sebagai pikiran umum (Soenarjo, 1984:29)
Mempelajari dan memperdalam analisis mengenai opini publik, diperoleh beberapa poin pendukung penting bagi perkembangan organisasi (Cutlip, Center dan Broom, 2006:240). Poin tersebut antara lain, arah opini mampu mengindikasikan kualitas evaluatif mengenai bagaimana sikap publik terhadap kebijakan program organisasi, apakah mendukung, menolak atau netral. Kedua, mengukur intensitas seberapa kuatkah perasaan publik terhadap opini yang berhembus. Ketiga, stabilitas mengenai seberapa lama publik menganut arah dan intensitas opini yang dirasakan. Berikutnya adalah dukungan informasional yang mengacu pada seberapa banyak pengetahuan publik terhadap objek opini. Terakhir adalah dukungan sosial, yakni memberikan bukti tentang sejauh mana orang yang menganggap opini mereka juga didukung oleh orang lain dalam lingkungan sosial mereka.
Seorang sosiolog dan ahli komunikasi Jerman, Ferdinand Tonnies, juga mengemukakan tiga tahap pembentukan opini publik berikut ini (dalam Soenarjo, 1984:28) :
a. Luftartigen Position, yaitu posisi bagaikan angin yang merupakan tahap masukan yang masih semrawut
b. Fleissigen Position, yaitu tahap pembicaraan yang mulai terarah untuk membentuk pikiran yang jelas dan menyatu. Pada tahap ini isu bisa disetujui bisa juga tidak.
c. Festigen Position, yaitu tahap yang dapat menyatukan pendapat anggota kelompok dari tahap-tahap sebelumnya.
Sifat opini publik tidak boleh diremehkan, harus ada manajemen dan standar operasional dalam memainkan opini yang berkembang. Agar opini publik yang muncul mampu digiring menjadi arus positif bagi citra organisasi maka perlu untuk memperdalam sistematika mengani langkah-langkah pengendalian opini publik. Zulkarnean Nasution menjelaskan langkah-langkahnya sebagai berikut : menemukan masalah di dalam internal organisasi tersebut. Kedua, menemukan opini yang berkembang, selanjutnya, menganalisis opini dari segi lingkup, kompetisi, mutu, kadar dan pemunculan. Keempat, mambuat strategi yakni menentukan arah opini yang dibentuk. Kelima, menentukan arah dari program dalam upaya mencari opini yang diinginkan. Terakhir, merumuskan pesan komunikasi yang tepat (2006:24).

2.12. Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah hasil penelitian terdahulu yang telah diringkas oleh peneliti
Penelitian 1 Penelitian 2
Nama Peneliti Novita Heris Diana
FISIP Universitas Brawijaya Paulus
(Universitas Kristen Petra Surabaya)

http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dt_2119.html

Penelitian Skripsi 2010 Skripsi 2002
Judul Reposisi Hubungan Masyarakat Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
(Studi Pada Enam BUMN di Kota Malang) Reposisioning citra website perusahaan training PT Tiga Dimensi Solusi Indonesia menuju persaingan global
Abstraksi Penelitian ini dilakukan pada enam BUMN yang ada di kota Malang. Tujuannya untuk mendeskripsikan posisi humas pada beberapa BUMN, bagaimana peran dan fungsi humas dalam melaksanakan aktivitas kehumasan dalam perusahaan, serta bagaimana fakta yang ada saat ini digunakan sebagai landasan untuk menempatkan humas BUMN pada posisi yang seharusnya ditempati dalam perusahaan.
Penelitian ini dilakukan di pada enam BUMN yang ada di kota Malang, yaitu PT BRI Cabang Malang Kawi, Perum Perumnas Regional VI Cabang Malang, Perum Bulog subdrive Malang, Perum Jasa Tirta 1, Perum Perhutani KPH Malang dan PT Telkom Kandatel Malang. Indonesia menjelang diberlakukannya zona perdagangan bebas (AFTA) regional dan internasional akan menghadapi peliknya kompetisi antar negar-negara tetangga dan dunia yang notabene memperebutkan kue yang sama dalam ekonomi dunia.
PT. Tiga Dimensi Solusi Indonesia sebagai perusahaan yang baru berkembangdibidang training dan reseller software perlu meningkatkan citra dan kredibiltas usahanya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperluas jaringan pasar dan memperbesar tingkatan konsumen serta mampu untuk bersaing dengan perusahaan lainnya di era yang akan datang.
Saat ini website telah menjadi sebuah komunitas yang memiliki daya jangkau paling luas dalam segi pengenalan citra serta membantu pemasaran.
Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah posisi humas pada struktur organisasi masing-masing BUMN di Kota Malang ?
2. Bagaimanakah fungsi dan peran humas dalam melaksanakan aktivitas pada masing-masing BUMN di Kota Malang?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan ada atau tidaknya Humas pada masing-masing BUMN di Kota Malang ?
4. Bagaimanakah reposisi pada masing-masing BUMN di Kota Malang? Bagaimanakah desain website yang tepat untuk membantu reposisioning citra PT Tiga Dimensi Solusi Indonesia?

Jenis Penelitian Kualitatif – Deskriptif Kualitatif – Deskriptif melalui pendekatan studi Komparatif
Lokasi Penelitian Malang Surabaya
Fokus Penelitian 1. Bagaimana posisi Humas dalam BUMN tersebut dilihat dari kedudukan Humas pada struktur organisasi
2. Apakah factor yang menyebabkan ada atau tidaknya Humas pada BUMN
3. Bagaimanakah kompetensi SDM Humas pada BUMN
4. Bagaimanakah persepsi pimpinan terhadap keberadaan Humas pada BUMN
5. Apa sajakah fungsi dan peran Humas pada BUMN
6. Bagaimana fungsi dan peran Humas BUMN dalam melaksanakan aktivitas kehumasan pada BUMN
7. Bagaimanakah seharusnya BUMN menempatkan posisi Humas dalam perusahaan sesuai dengan fungsi dan peran Humas dalam perusahaan Mengidentifikasi unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam reposisioning sebuah citra perusahaan dalam media website serta menerapkan unsur-unsur tersebut dalam studi kasus proyek website PT Tiga Dimensi Solusi Indonesia
Metode Pengumpulan Data 1. Wawancara dengan pihak Humas atau staf Humas atau staf dari bagian lain dalam BUMN yang menjalankan peran sebagai Humas
2. Observasi mencakup perilaku verbal dari staf Humas, kegiatan yang berhubungan dengan kehumasan serta benda-benda yang digunakan dalam interaksi sehari-hari
3. Dokumentasi atau teks : data yang berbentuk struktur organisasi dari masing-masing BUMN, job descripton Humas serta dokumen lain yang mendukung dalam pengumpulan data.
1. Wawancara dengan pemilik usaha PT Tiga Dimensi Solusi Indonesia
2. Observasi kinerja perusahaan
3. Studi literature dan narasumber konsumen, baik perseorangan maupun perusahaan.

Keabsahan Data Trustworthiness (Authenticity dan Triangulasi) Trustworthiness : Triangulasi
Analisis Data Miles dan Huberman : Reduksi data dan Data display SWOT
(Strenght, Weakness, Oppurtunity dan Threatness)
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menggambarkan bahwa tiga dari enam BUMN tidak memiliki bagian Humas dalam perusahaan. Humas di sini diwujudkan hanya sebatas pada tekhnik komunikasi. Sedangkan, pada tiga subyek lainnya, bagian Humas dalam perusahaan kurang memiliki kewenangan penuh sehingga berpengaruh pada pelaksanaan program kerja bagian Humas. Posisi bagian Humas pada perusahaan dipengaruhi oleh kebijakan masing-masing pimpinan perusahaan mengenai penting atau tidaknya Humas bagi perusahaan. Namun, meskipun Humas hanya diwujudkan sebagai tekhnik komunikasi ataupun Humas menjadi sebuah bagian yang berdiri sendiri dalam perusahaan, fungsi dan peran Humas sangat penting bagi perusahaan. Reposisioning citra menggunakan media website membutuhkan perhatian lebih dibandingkan proses dan pengerjaan desain media lain. Hal-hal mendasar yang harus diperhatikan dalam pengerjaan desain sebuah website antara lain
1. Usability, sebuah guideline yang digunakan para desainer web untuk menerangkan bahwa penggunaan elemen-elemen desain yang sifatnya berulang sebaiknya dipirkan dan sipersiapkan
2. Flexibilty, sebuah guideline untuk menjaga tampilan visual agar website mudah dinikmati
3. Ukuran file seminimal mungkin
4. Pemilihan font, menjaga sebuah tampilan agar mudah dibaca

Penelitian terdahulu memiliki kesamaan dalam fokus permasalahan yakni sama-sama meneliti mengenai upaya reposisi pada organisasi profit. Sedangkan perbedaannya adalah pada penerapan fungsi humas pada masing-masing permalasahan. Penelitian pertama membahas pada fungsi dan peran humas dalam pekerjaan organisasi sehari-hari. Sedangkan penelitian kedua lebih spesifik yakni fungsi humas pada pemilihan strategi media promotion.
Peneliti pertama merupakan penelitian tahun 2010 mengenai upaya reposisi fungsi dan peran humas pada BUMN di kota Malang. BUMN yang menjadi subyek penelitian adalah BUMN yang berstatus publik maupun non-publik. Hasil penelitian didapatkan bahwa tidak semua BUMN yang notabenenya adalah institusi profesional memiliki divisi atau bidang humas. Hanya saja fungsi dan peran humas tetap ada dan terlesap pada divisi lainnya. Kesimpulan lainnya adalah, humas pada BUMN kurang memiliki kekuasaan penuh pada struktur organisasi, baik dalam pemberian saran bagi pimpinan ataupun fungsi pengawasan.
Sementara pada penelitian kedua merupakan penelitian tahun 2002 dari Universitas Petra Surabaya. Peneliti mengambil spesifikasi pada fokus upaya reposisi citra organisasi profit melalui media website. Peneliti mencari formula dan solusi bagi organisasi ini untuk mempersiapkan persaingan perdagangan bebas dalam Asean Free Trade Agreement. Harapannya melalui formulasi yang peneliti pelajari dan komparasikan dengan organisasi lain yang sejeniis, organisasi ini mampu menjadi pemenang. Karena disadari website merupakan media yang ampuh dalam menyebarluaskan nama perusahaan, karena sifatnya yang real time, kapanapun dan dimanapun. Reposisi yang diaplikasikan dalam organisasi ini adalah pada pemilihan desain website, tata letak, warna, jenis dan ukuran. Perhitungan dan pemilihan efek yang tepat diasumsikan mampu membawa dampak positif bagi pembaca website. Rasionalisasinya, apabila pembaca website cepat dan mudah dalam memahami website maka pembaca juga akan semakin cepat tahu dengan organisasinya dan melakukan kontrak lebih lanjut.

2.12. Kerangka Pemikiran

Sumber : Diadaptasi dari Rachmat Kriyantono, Public Relation Writing (2008:27-31)
Penelitian ini membahas tentang bagaimana upaya Perhumas Malang Raya dalam mendorong upaya reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi. Perhumas Malang Raya yang notabenenya adalah organisasi profesi humas juga menerapkan prinsip-prinsip kehumasan termasuk juga diwujudkan dengan penciptaan strategi manajemen public relations. Beberapa kegiatan kehumasan organisasi mahasiswa antara lain, diskusi tentang humas, sharing dengan praktisi humas, filantropi dan lain sebagainya menjadi beberapa program kerja. Semua kegiatan ini, dibantu oleh bidang publikasi disebarluaskan ke media dengan harapan mampu membawa perubahan pada peran dan fungsi humas yang mulai berubah dari semangat awal humas terkonsepkan. Dengan mempejari strategi manajemen public relations Perhumas Malang Raya tahun periode 2009-2010, maka hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk merencanakan atau melanjutkan agenda dalam upaya mendorong reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi agar lebih efektif dan optimal.

Advertisements