BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan (Ruslan, 2006:215). Sedangkan menurut Kriyantono (2006:58), tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. Dalam mencari data dan informasi penelitian ini, maka peneliti terjun di lapangan langsung.
Riset penelitian ini sifatnya subyektif, karena hasil penelitian ini bergantung pada pengamatan peneliti di lapangan. Sehingga titik berat dari hasil penelitian ini berdasarkan pada kedalam infomasi yang berhasil di rekam peneliti. Informasi tersebut mencakup uraian tentang ucapan, tulisan, tingkah laku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat atau organisasi tertentu dalam suatu konteks setting tertentu yang dikaji dari sudut pandang utuh, komprehensif dan holistic (Bogdan and Taylor dalam Ruslan, 2006 : 215).
Metodologi penelitian ini menggunakan metode gabungan yakni metode wawancara mendalam, metode observasi dengan ditambah dari sumber dokumentasi. Hal ini dipilih guna mendapatkan pendekatan konstruktivis untuk menangkap realita yang ada dalam pikiran subyek yang diteliti. Metode wawancara mendalam yakni melakukan kegiatan wawancara tatap muka secara mendalam dan terus menerus untuk menggali informasi dari responden. Sedangkan metode observasi adalah metode dimana periset mengamati langsung objek yang diteliti, yang dalam penelitian ini peneliti memilih metode observasi partisipan (Kriyantono, 2006 : 65).
Peneliti memperoleh dan menganalisi data melalui pengalaman peneliti selama masa penelitian, rekaman wawancara serta hasil dokumentasi acara-acara terkait strategi public relations. Sehingga berdasarkan penjelasan tersebut, tipe penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau obyek tertentu. Peneliti mempunyai konsep dan kerangka konseptual, yang melalui kerangka konseptual tersebut peneliti melakukan operasionalisai konsep yang akan menghasikan variabel dan indikatornya. Penelitian deskriptif ini menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antar variabel (Kriyantono, 2006 : 69).
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini fokus pada gerak organisasi profesi humas, Perhumas Malang Raya, yang berimplikasi pada upaya mendorong reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi. Maka penelitian ini dilakukan di kota Malang yang mencakup institusi anggota aktif Perhumas Malang Raya. Selain tatap muka langsung peneliti juga menggunakan media komunikasi seperti telepon, email, website maupun social network untuk mendapatkan beberapa data dan informasi.
3.3. Fokus Penelitian
Berdasarkan tujuan dan rumusan masalah yang disusun peneliti, maka fokus pada penelitian ini ialah pada implementasi manajemen strategi Perhumas Malang Raya dalam mendorong upaya reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi. Adapun rincian fokus
a. Posisi peran dan fungsi humas pada organisasi saat ini
1. Realitas posisi peran dan fungsi humas pada organisasi saat ini
2. Posisi ideal peran dan fungsi humas pada organisasi dalam konteks konspetual teoritik
3. Reposisi peran dan fungsi humas yang diharapkan muncul serta terlaksana pada aktifitas organisasi
b. Aktifitas implementasi manajemen strategi Perhumas Malang Raya dalam upaya mendorong reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi
1. Aktifitas manajemen strategi Perhumas Malang Raya dalam upaya mendorong reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi
2. Dampak yang muncul setelah pengimplementasian strategi yang Perhumas Malang Raya terapkan
3. Tindak lanjut dari organisasi yang melaksanakan aktifitas kehumasan baik praktis maupun professional setelah mengikuti kegiatan dari Perhumas Malang Raya

3.4 Tekhnik Pengambilan Informan
Tekhnik pengambilan informan adalah merupakan tekhnik pengambilan sampel. Tekhnik pengambilan sampel dikelompokkan menjadi dua, yakni probability sampling dan non probability sampling (Sugiyono, 2008:53). Penelitian ini mengambil informan dengan metode non pobablitiy sampling dengan tekhnik purposive sampling. Selaras dengan penelitian ini, peneliti memlih tekhnik purpossive sampling yakni mengambil sampel secara sengaja. Peneliti menentukan sampel menurut pendapatnya sendiri dengan mempertimbangkan karateristik dari sifat sampel tersebut (Wisadirana, 2005:89). Sampel yang diambil sesuai dengan permasalahan yang diteliti dan memberikan informasi yang diperlukan (Malo dalam Wisadirana, 2005:89). Mengacu pada Spradley (dalam Hidayat dalam Christine, 2010:53) dasar-dasar pemilihan informan antara lain, pertama, individu yang dijadikan informan adalah mereka yang memahami sesuatu melalui proses inkultursi, sehingga informasi yang mereka punya bukan hanya sekedar diketahui tetapi juga dihayati. Kedua, mereka tergolong masih berkecimpung dalam kegiatan yang diteliti. Ketiga, mereka yang mempunyai waktu dan kesempatan yang memadai untuk dimintai keterangan. Keempat, mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi dari kemasannya sendiri. Lincoln dan Guba (dalam Sugiyono, 2008:53) menjelaskan bahwa penentuan unit sampel (responden) dianggap telah memadai apabila telah sampai pada taraf “redundancy” (datanya telah jenuh, ditambah sampel lagi tidak memberikan informasi yang baru)
Informan yang dipilih untuk diwawancarai adalah orang-orang yang sesuai dengan kriteria informan yang telah diungkapkan peneliti di atas. Mereka yang pernah terlibat secara langsung serta aktif dalam kegiatan Perhumas Malang Raya, antara lain :
a. Ketua Humas Universitas Kanjuruhan Malang : Mirza Suharto
Selain sebagai ketua Humas Universitas Kanjuruhan Malang, beliau juga menjabat sebagai ketua Forum Komunikasi Humas Perguruan Tinggi Malang
Beserta pejabat humas sebelumnya
b. Ketua Humas Universitas Muhammadiyah Malang : Nasrullah S.Sos M.Si
Beserta pejabat humas sebelumnya
c. Ketua Humas Universitas Merdeka Malang :
Beserta pejabat humas sebelumnya
d. Kepala Bagian Pemberitaan Pemerintah Kota Malang : Syahrial
Beserta pejabat humas sebelumnya
e. Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batu : Eko
Beserta pejabat humas sebelumnya
f. Mantan Humas RS Syaiful Anwar Malang : Sri Endah Noviani
Meskipun tidak memegang jabatan lagi sebagai humas RS Syaiful Anwar Malang, beliau merupakan akademisi humas dan penggiat humas dalam ranah profesional termasuk juga dalam kegiatan Perhumas Malang Raya dan Perhumas Muda Malang Raya.
Beserta pejabat humas saat ini
g. Ketua Perhumas Malang Raya : Dr. Zulkarnaen Nasution
Selain ketua Perhumas Malang Raya, beliau juga merupakan akademisi sekaligus ketua humas Universitas negeri Malang. Beliau merupakan narasumber yang dianggap mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas dan program kerja Perhumas
h. Sekretaris Perhumas Malang Raya : Akh. Muwafik Saleh S.Sos, M.Si
Beliau merupakan akademisi yakni sebagai pengajar ilmu Komunikasi Universtitas Brawijaya Malang dan maestro trainer bidang pelayanan publik. Dalam struktur organisasi Perhumas Malang Raya, beliau merupakan backbond dalam kepemimpinan di Perhumas Malang Raya.
3.5. Tekhnik Pengumpulan Data
Data-data yang dianalisis dikatagorikan dalam dua jenis data, yaitu data primer dan sekunder. Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sedangkan, sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data pada pengumpul data (Sugiyono, 2008:62).
a. Pada penelitian ini, data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi.
1. Menurut Esterberg (dalam Sugiyono, 2008:73) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Tekhnik wawancara yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah tekhnik wawancara tak terstruktur. Wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden. Wawancara dengan informan akan dilakukan melalui tatap muka, namun jika memang waktu tidak memungkinkan, untuk selanjutnya akan dilakukan melalui telepon, email maupun SMS.
Metode wawancara ini merupakan sarana untuk mencari data dalam upaya untuk menjawab fokus penelitian mengenai realitas posisi peran dan fungsi humas saat ini serta menguraikan jawaban dari pertanyaan menyangkut aktifitas dari implementasi manajemen strategi Perhumas Malang Raya.
2. Tekhnik primer selanjutnya adalah melalui observasi. Observasi difokuskan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena riset. Fenomena ini mencakup interaksi dan percakapan yang terjadi di antara subjek yang diteliti (Kriyantono, 2007:106). Masih menurut Kriyantono dalam bukunya, terdapat dua tekhnik dalam riset observasi yakni partisipan sebagai periset dan observer sebagai partisipan. Sebagai penegas, menurut Nason dan Golding (dalam Mulyana, 2006:176) dalam taktik pengamatan berperan serta, peneliti berusaha memahami bagaimana nilai-nilai yang dianut dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan.
Tekhnik ini digunakan untuk mengambil data yang terselip di antara interaksi dan percakapan antara pengurus Perhumas dengan anggota, anggota dengan anggota maupun pengurus dengan pengurus. Data ini akan diolah untuk menjawab fokus penelitian mengenai reposisi peran dan fungsi humas yang diharapkan muncul pada aktifitas organisasi. Serta menjawab mengenai pertanyaan mengenai tindak lanjut dari organisasi yang melaksanakan aktifitas kehumasan baik praktis maupun professional setelah mengikuti kegiatan dari Perhumas Malang Raya
b. Tekhnik berikutnya adalah tekhnik pengumpulan data sekunder. Data sekunder adalah dokumen yang bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya dari seseorang (Sugiyono, 2008:82). Data dokumen diantaranya diperoleh dari electronic database, mencakup milis dan website Perhumas (www.perhumas.or.id dan melalui http://www.facebook.com dalam group “perhumas malang raya”. Selanjutnya, juga bisa diperoleh dari dokumen dan foto yang menjadi arsip Perhumas Malang Raya. Terapat dua katagori foto yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian kualitatif, yaitu foto yang dihasilkan orang dan foto yang dihasilkan oleh peneliti sendiri (Bogdan dan Biklen dalam Moleong, 2009 : 160).
Tekhnik pengumpulan data sekunder digunakan sebagai penegas mengenai aktifitas dari Perhumas Malang Raya serta perbedaan yang muncul mengenai reposisi peran dan fungsi humas, baik melalui gambar struktur organisasi maupun aktifitasnya secara praktis.
3.6. Tekhnik Analisis Data
Dalam menganalisis data hasil wawancara dan observasi, peneliti menggunakan takhnik analisis filling system (Wimmer dan Dominick dalam Kriyantono, 2007:195). Setelah peneliti merasa data yang terkumpul sudah cukup, maka dilakukan analisis. Data hasil observasi akan dianalisis dengan membuat katagori-katagori tertentu atau domain-domain tertentu. Sehingga, setelah melakukan observasi, peneliti membuiat katagori seperti : hubungan, interaksi, persiapan dan strategi yang diimplementasikan oleh pengurus Perhumas Malang Raya kepada mahasiswa perguruan tinggi Malang.
3.7. Keabsahan Hasil Penelitian
Dalam menyelediki kebasahan data yang diperoleh, peneliti memilih metode triangulasi. Menurut Sugiyono (2008:85), tujuan triangulasi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. Triangulasi adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Denzin (dalam Moleong, 2009:330) membedakan empat macam triangulasi sebagai tekhnik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Triangulasi sumber, berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Triangulasi metode, yakni pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa tekhnik pengumpulan data dan pengecekan derajat kepercayaan bebarapa sumber data dengan metode yang sama. Triangulasi yang ketiga, penyidik, yakni memanfaatkan pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Triangulasi teori, dilakukan peneliti dengan memaparkan beberapa teori yang dianggap relevan untuk penelitian dengan hasil penelitian (Moleong, 2009:330).
Pada penelitian ini, peneliti memilih untuk menggunakan trianggulasi metode, yakni mendapatkan jawaban dari informan berbeda dengan metode yang sama.

3.8. Alur Penelitian

Sumber : Diadaptasi dari Rachmat Kriyantono, Tekhnik Praktis Riset Komunikasi (2007:25)
Fokus penelitian ini adalah pada upaya reposisi peran dan fungsi humas pada organisasi melalui agenda yang dilakukan oleh Perhumas Malang Raya. Melihat jauhnya perbedaan antara peran dan fungsi humas dalam konsep dan realita sehingga penelitian ini berangkat pada pencarian data-data dari para praktisi dan pelaku humas di organisasi. Pelaku organisasi ini juga dipilih kembali dengan prasyarat pernah mengikuti dan aktif mengikuti agenda Perhumas. Data mengenai penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan dipilih dua klasifikasi yakni dari pelaku humas yang aktif mengikuti agenda Perhumas dan yang kedua adalah dari pengurus Perhumas Malang Raya. Setelah semua data diperoleh, maka data akan diolah melalui analisis filling system yang dilanjutkan dengan trianggulasi data. Sehingga didapatkan jawaban dari rumusan permasalahan yang diangkat.

Advertisements